Apakah kamu tahu lebah trigona?

Trigona adalah salah satu genus lebah. Lebah tanpa sengat. Apis trigona adalah salah satu jenis lebah yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat di kawasan hutan di Indonesia. Lebah ini berukuran kecil dan sering berada di bunga-bunga kecil, Lebak pekerjanya berwarna hitam, dengan kepala yang cukup besar dan rahang yang tajam untuk menggigit mangsanya. Sedangkan ratu lebahnya berukuran 3-4 kali lebah pekerja dan memiliki sayap pendek. Sang ratu lebah tidak bisa terbang dengan baik karena badannya yang besar, sehingga mereka cenderung menetap di sarang yang sama, kecuali sudah terlalu tua atau lilinnya terlalu keras.

Secara alami, mereka bersarang di lubang-lubang pohon, celah dinding, dan lubang bambu. Mereka membuat lubang kecil sepanjang 1 cm yang diselimuti zat perekat pada tempat keluar masuk untuk keamanan koloni. Sarang mereka tersusun atas beberapa bagian untuk menyimpan madu, tepung sari, tempat bertelur, dan tempat larva. Di bagian tengah ada karangan bola berisi telur, tempayak, dan kepompong. Di bagian sudut ada bola-bola kehitaman sebagai penyimpan madu dan tepung sari.

Lebah Madu Klanceng Trigona banyak diternak secara tradisional. Sarangnya biasanya menggunakan gelodok yang pembuatannya meniru rumah-rumah lebah yang ada di ronga-ronga batang pohon besar atau gua yang terlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah tiruan Lebah Madu Klanceng Trigona dibuat dari batang kelapa (pucuk), kayu randu (kapuk), kayu pucung, atau batang pohon lain yang berkayu lunak. Lebah ini menghasilkan madu dan lilin dalam jumlah yang sangat kecil, rasanya asam, dan sering dipakai untuk obat sariawan. Sedangkan lilinnya dipakai untuk membatik.

Mereka juga dapat ditemukan secara alami di hutan dekat Ecolodge Bukit Lawang. Tapi apabila anda benar-benar ingin melihat mereka dengan cepat, anda juga dapat mengunjungi Ecofarm, kami memelihara lebah tersebut untuk madunya.